Perang Tarif

Memang diakui kalau ceruk pasar Indonesia masih banyak yang price sensitive yang tentu saja akan banyak end user lompat sana lompat sini. Aha jadi inget, kalau mas pujiono bilang, inilah yang dinamakan kompetisi. Betapa indahnya berkompetisi kalau begini. Kalau sedikit “menyenggol” kanan-kiri selama masih tidak melanggar ketentuan saya fikir gak papalah.
Oke, oke.. Untuk kondisi perang by commercial ads saya sajikan untuk anda. Sorry nggak lengkap, kalau ada yg mau ngelengkapi silahkan diberikan tautan dibagian komentar.

Gambar 1 : Memang XL yang paling berani untuk masalah tarif ini. Tarif Rp.1 langsung digelontorkan tanpa tedeng aling-aling.

Gambar 2 : Indosat gak mau ketinggalan dari XL langsung memberikan tarif NOL rupiah.

Gambar 3 : XL kayaknya frontal banget. Terlihat kasat mata “Tong Kosong” yang sedang diduduki ada angka Nol nya. Well yeah, gak perlu ditulis siapa yang dimaksud.

Gambar 4 : Telkomsel mengeluarkan Simpati PeDe (Perdetik) dengan tagline “Enaknya pake detik-detikan” oleh Indra Bekti.

Gambar 5 : Tentu saja turun tarif dari pemimpin pasar membuat XL sang pelopor tarif murah GSM tidak ketinggalan. Turunkan tarif menjadi Rp 0.1 perdetik.

Gambar 6 : Esia menurut saya juga “agresif” dalam beriklan menyenggol kompetitor lain.

Wokeh, sampai sini bisa diraba dan dirasa siapa yang paling agresif untuk perang tarif. Hmmm, mau berapapun nilai yang dipatok per rupiahnya, yang paling penting adalah kata kunci “turun tarif” nya didengungkan. Hehe.. pelanggan untung.. pelanggan untung.. well done!
Kemaren banyak yg komeng tentang ads-comercial Telkomsel yang diletak di depan Stasiun kereta api Medan. Bunyi taglinenya “TETANGGA SEBELAH, ngomongnya paling murah, ternyata tarifnya RIBET banget dan jaringannya TERBATAS”. Uhm, ini tidak bakalan ke-sounding keras di milis dan internet serta menjadi bahan pembicaraan kalau tidak diletakkan disebelah billboard Telkomsel ada billboard XL. Wakaka.. medan kali gayanya ini, ditabok moncong sekali harus dibales moncong pulak. Kalau billboard ini ditaruh diluar medan mungkin gak cocok kali yee sama sifat daerahnya.
Gambar 7 : Iklan Telkomsel di Medan (Depan Stasiun Kereta Api Medan) didekat tanah lapang. Yoih, pas diujung sebelah kanan juwalan juwalan buku bekas yang dipindah dari titi bobrok belakang stasiun. (gimana sih ngomongnya kok jadi ribet? hihi)

Gambar 8 : Gak tau gegara Telkomsel ngeluarin satu billboard (gambar di atas) terus XL ngeluarin iklan “Kawin sama monyet”. Njrit, saya gak punya gambarnya, ada yg punya bagi dunks?
Gambar 9 : Reaksi dari Indosat atas iklan “kawin sama monyet”.

Gambar 10 : Well, iklan terbaru yang saya terima pagi ini dari milis sebelah adalah Tarif IM3 termurah. Hoanjriddd, Rp. 0.01 itu sangat murah jendral! Terus yang menarik kalimat marketing “Ke 110 Juta pelanggan”. Ini bahasa lain dari ke “semua operator” kali yah.

See, seperti yang saya bilang di atas pelanggan sangat diuntungkan. Kita lihat gebrakan dari XL selanjutnya atas iklan ini. Apakah mereka turun sampek Rp. 0.001 atau berapapun dibelakang nol, gimana-gimananya kita lihat saja nanti. Terus bagaimana ntar XL bereaksi atas kalimat “Ngapain kawin dengan monyet ini?” Well kita perhatikan aja sama-sama. Yuk maree..!
Oh iyah, tempat saya bekerja adalah provider selular dengan market pasar yang paling besar sak indonesia. Mengikuti apa yang digagas oleh manajemen on top, Telkomsel selaku market leader sekarang berfokus ke service leader, jadi yang disasar adalah “service”. Sepihak dan pribadi saya fikir, mau berapapun tarifnya yang paling penting adalah “Layanan” yang disajikan. Buat apa tarif murah kalau dipelayanannya jeblok. Ada yang nggak setuju dengan ini? Silahkan berkomentar!

Mari kita nikmati perang ini!

Leave a Reply